Koreksi Bursa Asia dan Rekor Baru Indeks Kospi Korea Selatan pada Perdagangan 19 Februari 2026

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:15:10 WIB
Koreksi Bursa Asia dan Rekor Baru Indeks Kospi Korea Selatan pada Perdagangan 19 Februari 2026

JAKARTA - Indeks Kospi di Korea Selatan mencatat rekor tertinggi pada perdagangan saham di antara bursa saham Asia pada Kamis, 19 Februari 2026. Lonjakan ini menjadi sorotan utama pasar modal regional, terutama setelah sejumlah bursa utama Asia melanjutkan transaksi setelah libur panjang Imlek. Laju positif saham acuan ini didorong oleh penguatan saham unggulan seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, serta sentimen positif dari pasar global yang lebih luas.

Rekor Kenaikan Indeks Kospi di Tengah Kelanjutan Perdagangan

Pada perdagangan Kamis (19/2/2026), indeks Kospi melonjak ke posisi tertinggi sepanjang sejarah, berhasil mencatat rekor baru yang memecahkan level sebelumnya. Kenaikan signifikan indeks acuan ini mengikuti tren positif Wall Street dan dibarengi dengan pembukaan pasar saham di kawasan Asia pasifik yang kembali aktif setelah libur panjang Imlek.

Saham-saham besar Korea Selatan seperti Samsung Electronics mencatat penguatan di angka lebih dari empat persen, sementara perusahaan semikonduktor lainnya seperti SK Hynix juga menunjukkan tanda-tanda optimisme dengan kenaikan harga sahamnya. Keberhasilan sektor teknologi ini menjadi salah satu pendorong utama naiknya indeks Kospi.

Indeks Kosdaq, yang mencerminkan pergerakan saham-saham dengan kapitalisasi lebih kecil, juga menunjukkan kenaikan, meskipun tidak setinggi Kospi. Selain itu, indeks saham lainnya di kawasan seperti ASX 200 di Australia dan Nikkei 225 di Jepang turut menguat pada awal sesi perdagangan.

Sentimen Pasar Global dan Kebijakan Moneter Global

Kondisi pasar global memberikan dorongan tambahan bagi bursa Asia, termasuk Kospi. Pada perdagangan di Wall Street, indeks S&P 500 menguat, didorong oleh kenaikan saham sektor teknologi yang menjadi andalan pertumbuhan pasar modal Amerika Serikat. Indeks Nasdaq dan Dow Jones masing-masing mencatat kenaikan signifikan, yang mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi global dan kinerja perusahaan teknologi besar.

Sentimen tersebut juga muncul di tengah rilis risalah pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve, yang dipantau oleh pelaku pasar global untuk melihat arah suku bunga dan kebijakan moneter selanjutnya. Arah kebijakan ini secara tidak langsung memengaruhi aliran modal ke pasar negara berkembang termasuk Asia, di mana Korea Selatan merupakan salah satu pasar saham utama.

Kinerja IHSG Pasca-Libur Imlek dan Pengaruh Global

Di pasar domestik Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat penguatan signifikan setelah libur panjang Imlek. Pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026, IHSG melesat ke posisi 8.310,22 dengan sebagian besar saham di Bursa Efek Indonesia menunjukkan catatan hijau. Penguatan IHSG ini sejalan dengan aksi beli oleh investor asing dan optimisme pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi yang masih solid.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan bahwa ekspektasi terhadap kondisi ekonomi yang kuat, antisipasi kinerja emiten, serta pembagian dividen menjadi beberapa faktor yang mendukung optimisme pasar. Selain itu, pasar juga menantikan hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level sebelumnya, serta data pertumbuhan kredit periode Januari 2026 yang diperkirakan stabil.

Prospek dan Tantangan Pasar Saham Asia

Keberhasilan indeks Kospi mencapai rekor baru menjadi indikator penting bagi pasar saham Asia, terutama karena saham Korea Selatan menjadi salah satu tolok ukur sentimen investor di kawasan. Lonjakan indeks ini juga dipengaruhi oleh sektor teknologi dan semikonduktor yang terus menunjukkan fundamental kuat dalam beberapa periode terakhir.

Namun demikian, beberapa tantangan tetap ada, termasuk ketidakpastian geopolitik dan kondisi kebijakan moneter global yang masih fluktuatif. Selain itu, pasar juga memperhatikan data makro ekonomi yang akan dirilis, yang dapat memberikan sinyal lebih jelas mengenai arah pertumbuhan ekonomi di Asia dan global secara umum.

Terkini