PLTP

Kunjungan Akademik PLTP Gunung Salak Dorong Pemahaman ESG Energi Bersih

Kunjungan Akademik PLTP Gunung Salak Dorong Pemahaman ESG Energi Bersih
Kunjungan Akademik PLTP Gunung Salak Dorong Pemahaman ESG Energi Bersih

JAKARTA - Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak di Sukabumi, Jawa Barat, menjadi tujuan kunjungan bagi mahasiswa. 

Mahasiswa Program Studi Magister Teknik Energi Terbarukan Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada (Unsada) belajar langsung di lokasi tersebut.

Kunjungan akademik yang digelar ini menghadirkan pengalaman unik bagi peserta dalam memahami penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di sektor energi panas bumi.

Tujuan kegiatan adalah memberi mahasiswa kesempatan melihat secara langsung proses pembangkitan listrik berbasis panas bumi. 

Selain aspek teknis, peserta juga diajak menilai kontribusi pembangkit dalam transisi energi nasional, sekaligus menekan emisi karbon melalui pemanfaatan energi bersih dan berkelanjutan. Acara ini diikuti oleh 25 peserta lintas semester, baik mahasiswa magister maupun sarjana, dengan didampingi dosen pembimbing.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Akhmad Muji Hartono, menegaskan pentingnya pengalaman lapangan. “PLTP Gunung Salak merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi saat ini lebih dari ±400 MW,” jelasnya.

Pembangkit ini tidak hanya memproduksi energi, tetapi juga menjadi contoh praktik ESG yang dapat diterapkan di sektor energi terbarukan.

Penerapan ESG dan Operasional Berkelanjutan

Kunjungan dimulai dengan safety induction dari tim Star Energy Geothermal Salak Ltd. Peserta diberi pemahaman prosedur keselamatan kerja, pentingnya pengelolaan lingkungan, serta pengawasan sosial di sekitar area operasional. 

General Manager PLTP Gunung Salak, Irwan Januar, memaparkan alur pembangkitan listrik, mulai dari sumur produksi, proses pemisahan uap, turbin, generator, hingga sistem kontrol beban di ruang kendali.

Selain aspek teknis, peserta diajak memahami tanggung jawab sosial dan lingkungan. “Kami ingin ruang kuliah tak lagi bersekat dinding. Mahasiswa harus merasakan langsung praktik ESG di industri,” ujar Akhmad. 

Kunjungan di area Plant AWI-1 memberi gambaran nyata bagaimana pengelolaan limbah, efisiensi energi, dan interaksi dengan masyarakat lokal menjadi bagian integral operasional pembangkit.

Direktur Magister Teknik Energi Terbarukan Unsada, As Natio Lasman, menambahkan, “Dengan melihat langsung proses pembangkitan, mahasiswa tak sekadar memahami teknis, tetapi juga menangkap gambaran besar: bagaimana panas bumi menjadi kunci transisi energi nasional.” Hal ini menekankan integrasi kompetensi profesional dengan nilai-nilai korporasi dan ESG.

Pembelajaran dan Kolaborasi Industri-Akademik

Pengalaman lapangan ini juga membuka peluang riset kolaboratif antara akademisi dan industri. Peserta diajak mengamati praktik terbaik dalam pengelolaan panas bumi, yang bisa menjadi referensi tesis, publikasi ilmiah, dan pengembangan inovasi teknologi geothermal.

Riki Firmandha Ibrahim, dosen Unsada sekaligus pakar geothermal, menegaskan bahwa praktik langsung di perusahaan seperti Star Energy membentuk karakter profesional mahasiswa. Kompetensi teknis harus berjalan seiring dengan pemahaman nilai ESG, termasuk manajemen lingkungan, pengelolaan sosial masyarakat sekitar, dan tata kelola perusahaan.

Kolaborasi ini bertujuan menyiapkan tenaga ahli yang mampu menjawab tantangan energi bersih di masa depan. Data empiris dan pengalaman lapangan menjadi dasar pembelajaran yang lebih komprehensif, dibandingkan sekadar teori di ruang kelas.

Pemanfaatan Panas Bumi dan Tantangan Nasional

Meskipun kapasitas PLTP Gunung Salak signifikan, pemanfaatan panas bumi nasional masih tergolong rendah, yakni baru 11,5 persen dari total potensi. Indonesia menempati posisi kedua terbesar dunia setelah Amerika Serikat dalam kapasitas terpasang, namun pemanfaatan potensial masih jauh tertinggal.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai, “Filipina mampu memanfaatkan sekitar 48,07 persen dari total potensi panas buminya.” Rendahnya pemanfaatan ini menandai tantangan serius dalam mencapai target bauran energi baru dan terbarukan sebagaimana RUPTL 2025–2034, dengan kontribusi energi baru terbarukan ditargetkan mencapai 51–61 persen kapasitas pembangkit nasional.

PLTP memiliki keunggulan operasional karena tidak bergantung cuaca dan dapat berfungsi sebagai beban dasar dengan faktor kapasitas 90–95 persen. Namun, kendala pasar, terutama sistem monopsoni listrik panas bumi, memperlambat realisasi proyek baru karena pengembang menunggu kepastian perjanjian jual beli listrik dan uap.

Transformasi Pendidikan Energi dan Masa Depan

Kunjungan ini menunjukkan bagaimana PLTP Gunung Salak menjadi laboratorium energi bersih. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang teknis pembangkitan, tetapi juga memahami pengelolaan ESG yang lengkap: lingkungan, sosial, dan tata kelola.

“Pengalaman ini akan menjadi landasan bagi pengembangan riset dan inovasi teknologi panas bumi nasional,” kata Akhmad. 

Dengan memadukan praktik lapangan, penelitian akademik, dan kolaborasi industri, program ini menyiapkan generasi ahli yang mampu mendukung transisi energi Indonesia ke sumber terbarukan, sekaligus menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan.

Pengalaman lapangan di PLTP Gunung Salak diharapkan menjadi model pendidikan yang menekankan integrasi ESG, pembelajaran berbasis praktik, dan pemahaman strategis terhadap energi bersih. 

Praktik ini juga diharapkan memperkuat kesadaran profesional mahasiswa akan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang melekat pada pengembangan energi panas bumi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index