JAKARTA - Harga minyak dunia kembali mengalami penguatan menjelang babak baru perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang akan digelar di Jenewa, menimbulkan dinamika kuat di pasar energi global yang sudah sensitif terhadap gejolak geopolitik dan prospek pasokan minyak. Pasar kini memasuki fase di mana sentimen diplomasi menjadi faktor dominan yang mendorong pergerakan harga minyak, di samping kekhawatiran tentang potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan antara dua kekuatan besar tersebut.
Pergerakan Harga Minyak dan Faktor Pemicu Sentimen Pasar
Harga minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman April menunjukkan kenaikan sekitar 0,6 persen, mendekati level US$66 per barel pada perdagangan pagi waktu Asia, sementara minyak Brent berada di sekitar US$70,77 per barel meskipun sempat mengalami pelemahan pada sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah evaluasi pasar terhadap terjadinya kemajuan atau hambatan dalam negosiasi nuklir antara AS dan Iran.
Kenaikan harga minyak ini terjadi meskipun ada ekspektasi bahwa lonjakan pasokan minyak global di masa depan dapat menekan harga. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpastian diplomasi dan ancaman terhadap pasokan menjadi faktor utama yang mendorong harga, bahkan jika kondisi fundamental pasar seperti inventaris dan produksi tetap relatif stabil.
Para pelaku pasar mencermati dengan seksama setiap sinyal dari perundingan yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 26 Februari 2026 di Jenewa, dengan harapan bahwa solusi diplomatik dapat menurunkan risiko konflik yang lebih luas yang dapat memengaruhi rute pasokan utama seperti Selat Hormuz. Sementara itu, pengerahan pasukan militer AS di kawasan Timur Tengah turut memperkuat persepsi risiko di antara investor dan trader komoditas energi global.
Peran Diplomasi AS-Iran dalam Pergerakan Pasar Energi
Negosiasi yang akan digelar di Jenewa ini merupakan pertemuan lanjutan dalam upaya menjembatani perbedaan antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran. Utusan khusus AS, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner, dijadwalkan kembali bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, untuk membahas kemungkinan kompromi yang dapat membuka jalan bagi kesepakatan nuklir yang lebih luas.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa ia tetap memberikan prioritas pada jalur diplomasi dalam menangani hubungan dengan Iran, meskipun ia juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat menjadi kabar buruk bagi Teheran. Pernyataan ini mencerminkan dilema pasar saat ini, di mana harapan akan penyelesaian diplomatik berdampingan dengan risiko eskalasi konflik militer yang dapat memicu lonjakan harga minyak lebih tinggi lagi.
Sementara itu, laporan internal mengenai briefing yang diberikan kepada para pemimpin legislatif oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) tentang situasi Iran juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh para pelaku pasar, karena memberi indikasi tentang betapa seriusnya Washington melihat dinamika hubungan dengan Iran.
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasokan Minyak
Kondisi di Timur Tengah tetap menjadi sorotan utama, terutama terkait potensi gangguan terhadap pasokan minyak global. Iran, sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia dan anggota kunci dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi. Ketika hubungan antara AS dan Iran memburuk, pasar cenderung mengantisipasi kenaikan premi risiko yang tercermin dalam harga kontrak minyak berjangka.
Ketidakpastian tentang apakah konflik akan meluas atau tetap berada pada level ketegangan diplomatik membuat trader harus berhati-hati dalam menetapkan strategi. Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit bagi sebagian besar ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia, menjadi titik fokus utama kekhawatiran pasar. Setiap ancaman terhadap arus lalu lintas di selat ini dapat menyebabkan lonjakan harga yang tajam, karena suplai minyak global bergantung pada kelancaran rute tersebut.
Selain itu, pengerahan pasukan militer AS di kawasan ini memperkuat persepsi pasar akan kemungkinan eskalasi konflik militer. Walaupun dampak langsungnya terhadap produksi minyak masih belum terlihat, peningkatan risiko geopolitik ini telah menyebabkan trader memasukkan premi risiko lebih tinggi dalam harga minyak, mencerminkan ketidakpastian yang lebih luas di pasar energi global.
Perbandingan Sentimen Pasar dan Faktor Fundamental
Meskipun ketegangan geopolitik menjadi faktor dominan, beberapa indikator fundamental seperti data inventaris minyak di Amerika Serikat turut diamati pasar. Laporan mingguan menunjukkan adanya lonjakan stok minyak mentah AS sebanyak jutaan barel, yang menciptakan tekanan turun terhadap harga dalam jangka pendek. Namun, efek dari lonjakan inventaris ini tampaknya tertutupi oleh tekanan geopolitik yang lebih besar yang mempengaruhi persepsi risiko dan ekspektasi pasar.
Di sisi lain, walaupun pasokan secara teoritis cukup untuk memenuhi permintaan global, persepsi akan ketidakpastian jangka pendek mendorong harga tetap berada di level yang lebih tinggi dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa pasar energi kini sangat reaktif terhadap berita dan peristiwa geopolitik, terutama yang berkaitan dengan hubungan antara AS dan Iran.
Pandangan Analis dan Proyeksi Pasar ke Depan
Analis pasar energi memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak ke depan akan sangat bergantung pada hasil negosiasi di Jenewa dan sinyal diplomasi yang muncul setelah pertemuan tersebut. Jika pembicaraan membawa hasil positif atau memperlihatkan indikasi kuat bahwa kedua pihak dapat mencapai kesepakatan, pasar bisa mengalami koreksi turun dari level tertingginya saat ini. Sebaliknya, jika negosiasi berakhir tanpa kemajuan berarti, atau jika ketegangan meningkat lebih jauh, premi risiko pada harga minyak diperkirakan akan semakin tinggi.
Prospek ini menunjukkan bahwa pasar minyak global kini berada pada persimpangan antara harapan diplomasi dan risiko geopolitik yang terus membayangi. Bagi pelaku pasar dan investor, memahami dinamika ini akan menjadi kunci untuk mengambil keputusan investasi yang tepat dalam beberapa pekan mendatang.